SMALL BOOK

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat Nya, penulis dapat menyelesaikan small book ini yang berjudul “DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA”

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Media Dakwah dan Teknologi. Selama penyusunan makalah ini penulis mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan. 

Dalam hal ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bimbingan dan bantuan yang telah diberikan oleh:. 

1.      Bpk Abu Amar Bustomi selaku dosen pengampu mata kuliah Dakwah Multikultural Dan Komunikasi Lintas Budaya. 

2.      Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupunmateril. 

3.      Teman-teman seperjuangan dikampus.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa small book  ini tidak terlepas dari kekurangan. Untuk itu penulis senantiasa terbuka menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini kedepan. 

Akhir kata kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah ini penulis mengucapkan banyak terimakasih. 

 

Surabaya, 20 Juni 2021

 

Erdin Eko Nur Cahyono











DEFINISI DAKWAH MULTIKULTURAL

&

KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA 














DAKWAH MULTIKULTURAL

PENGERTIAN DAKWAH MULTIKULTURAL

Istilah Dakwah Multikultural bukanlah hal yang baru atau asing di dalam dunia dakwah. Dakwah Multikultural terdiri dari 2 kata yakni Dakwah dan Multikultural. Untuk bisa memahami secara lebih mudah, maka peneliti membahasnya satu-persatu :

Dakwah Seperti yang sudah dijelaskan diatas, dakwah adalah sebuah aktivitas mengajak manusia untuk melaksan perintah Tuhan, menuju jalan kebaikan dan menjauhi apa yang sudah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Multikultural Multikultural berasal dari dua kata; multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya/kebudayaan), yang 19 secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti dipahami adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya. Dialektika ini melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya, verbal, bahasa dan lain-lain. Bagi sebagian orang Multikultur belum sepenuhnya dipandang sebagai suatu pemberian takdir Allah. Terkait dengan hal tersebut Al-Qur’an sudah jelas menyatakan dalam surat Al-Hujurat ayat 13 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Jadi, yang dimaksud dengan Dakwah Multikultural adalah aktifitas menyeru kepada jalan Allah melalui usaha-usaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat sebagai kunci utama untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan dakwah. Secara teori, solusi problematika dakwah pada masyarakat yang rentan konflik dapat ditempuh melalui pendekatan antarbudaya, yaitu proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da’i dan mad’u, dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antarbudaya agar peran budaya agar peran dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya situasi damai. Dalam Dakwah Multikultural, dakwah tidak hanya dipahami sebagai transformasi nilainilai Islam yang baik kepada masyarakat di bumi. Namun, hendaknya mengupayakan kesadaran nurani agar mengusung setiap budaya positif secara kritis tanpa terbelenggu oleh latar belakang budaya formal suatu masyarakat.

RUANG LINGKUP DAKWAH MULTIKULTURAL

Ruang lingkup kajian Dakwah Multikultural yang juga merupakan bidang dari kajian ilmu dakwah antara lain sebagai berikut :

Pertama, mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’í dengan mad’u yang berbedalatar belakang budaya yang dimilikinya dalam rentangan perjalanan dakwah para da’i, nabi dan Rasul termasuk nabi yang terakhir dan hukti kehadiran Islam di Indonesia adalah sebagai produk dari kegiatan Dakwah Multikultural.

Kedua, menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, pesan, dakwah, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu yang mewadahi keberlangsungan interaksi antarberbagai unsur dalam keberlangsungan dakwah.

Ketiga, mengkaji tentang karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.

Keempat, mengkaji tentang upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnik dan antaretnik, baik lokal-nasional, regional maupun internasional.

Kelima, mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antarbudaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing.

KOMUNIKAS LINTAS BUDAYA

Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang berbeda bangsa (international), antar etnik (interethnical), kelompok ras (interracial), atau komunikasi Bahasa (intercommunal), disebut komunikasi lintas budaya.

Menurut Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya, memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau komunikasi lintas budaya sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antar dua orang yang saling berbeda latar belakang budayanya. Komunikasi Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.

PENGERTIAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA MENURUT PARA AHLI

1.      Hafied Cangara – Komunikasi lintas budaya adalah proses dimana suatu ide diberikan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih. Maksud dan tujan dari pemberian tersebut untuk mengubah tingkah laku mereka.

2.      P. Clint Rogers (2009) – Komunikasi lintas budaya adalah suatu bidang studi yang meneliti beberapa cara yang dilakukan oleh manusia. Cara - cara tersebut datang dari beberapa manusia yang memiliki latar belakang budaya berbeda untuk berkomunikasi dengan manusia yang lainnya (Cross-Cultural Issues in Online Learning dalam IGI Global Disseminator of Knowledge)

3.      Doris E. Cross (2016) – Komunikasi lintas budaya tidak hanya terbatas pada mempelajari bahasa asing. Namun juga termasuk memahami bagaimana pola-pola budaya dan nilai-nilai inti. Kemudian pemahaman tersebut berdampak pada proses komunikasi - bahkan ketika semua orang berbahasa Inggris (Globalization and Media’s Impact on Cross Cultural Communication: Managing Organizational Change dalam IGI Global Disseminator of Knowledge)

4.      Tatjana Takševa Chorney (2009) – Komunikasi yang terjadi di antara anggota yang berbeda budaya yang mana setiap nilai, pola berpikir, komunikasi dan perilakunya seringkali berlawanan dengan nilai-nilai, pola berpikir, komunikasi dan perilaku yang lain. (The World Wide Web and Cross-Cultural Teaching in Online Education dalam IGI Global Disseminator of Knowledge).

 

  

 

 

BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL

Dalam konteks ke-Indonesiaan, dakwah dipahami sebagai upaya membangun komunitas masyarakat dengan kondisi pluralis, beragam agama, keyakinan, suku etnis dan budaya. Kebudayaan majemuk dengan beragam agama dan kepercayaan yang dianutnya, maka konsekuensinya, pemeliharaan kerukunan dan toleransi menjadi mahal dan sangat penting bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Perselisihan antar kelompok penganut agama yang berbeda dapat memicu konflik dan perpecahan yang endingnya adalah merugikan kelompok minoritas. Kondisi inilah yang tentunya membutuhkan strategi dakwah khusus dalam konteks ke-Indonesiaan, multikulturalisme.

Dinamika keilmuan Islam memahami spirit dakwah sebagai upaya menyampaikan pesan-pesan suci dan luhur yang bersumber dari ajaran agama. Dalam kehidupan masyarakat, dakwah telah menjadi bagian dari gerak hidup dan dinamika yang membutuhkan spirit luhur lahir batin. Spirit sebagai substansi dakwah tersebut setidaknya mencakup dua hal; mengajak kebaikan dan mencegah berbuat kemungkaran atau penyimpangan (amar ma’ruf nahyu munkar). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional. Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah.

Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah, adalah masyarakat yang membutuhkan hiburan. Mereka menerima pesan-pesan tersebut selagi tuntunan itu mengandung unsur hiburan. Sehingga dakwah menjadi pesan yang menghibur. Dai seakan menjadi pemain panggung, yang harus pandai berimprovisasi, demi kepuasan audien. Ini hanya salah satu contoh di mana kegiatan dakwah berhadapan dengan komunitas yang beraneka ragam budayanya, hobinya, tingkat pendidikannya, tingkat ekonomi dan perbedaan lainnya.

Dalam menyampaikan ajaran agama, dakwah tidak mesti mengambil jarak dengan budaya setempat. Budaya yang beraneka di amsyarakat perlu diperlakukan secara adil, dijadikan pintu masuk untuk mana ajaran agama bias disosialisasikan. Metode berdakwah dengan memadukan tuntunan dan tontonan, telah sejak lama dipakai sejak masuknya agama Islam di Indonesia. Pada masyarakat Jawa, sudah tidak asing lagi, dengan peran Sunan Kalijaga misalnya, yang memanfaatkan media kesenian wayang sebagai media dakwahnya. Jenis kesenian ini menjadi instrument penting, untuk pendekatan secara kultural.

Beragam budaya, agama, etnis dan golongan membutuhkan model pengelolaan yang sesuai supaya dakwah tidak melenceng dari cita-cita luhurnya. Substansi dakwah multikulturalisme dikembangkan sebagai respon atas kondisi yang dilatarbelakangi oleh keragaman budaya atau masyarakat multikultural, utama masyarakat yang sudah maju. Dakwah multikulturalime secara konsepsional mempunyai dua pandangan dengan makna yang saling berkatian (Liliweri, 2005:69). Pertama, multikultural sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan atau pluralisme budaya dari suatu masyarakat. Kondisi ini diasumsikan dapat membentuk sikap toleransi. Kedua, multikulturalisme merupakan seperangkat kebijakan pemerintah pusat yang dirancang sedemikian rupa agar seluruh masyarakat dapat memberikan perhatian kepada kebudayaan dari semua kelompok etnik atau suku bangsa. Hal ini beralasan, karena bagaimanapun juga, semua kelompok etnik  atau suku bangsa telah memberi  kontribusi bagi pembentukan dan pembangunan suatu bangsa.

Sebagaimana obyek multikulturalisem yang komplek, maka konsekuensinya juga membutuhkan langkah dan strategi yang juga komplek. Dakwah di manapun dan lewat madeia apapun, tujuannya adalah menjadi penyeimbang bagi perkembangan sosial budaya sekuler yang semata-mata hanya bersifat komersial. Meski masih harus lebih diperdalam lagi, seberapa besar penyeimbang tersebut, karena dampak kegiatan dakwah tidak bisa diketahui secara langsung. Tapi setidaknya kalau disanding dengan sesama kegiatan lain, seperti di bidang bisnis, dan inovasi-inovasi dalam dunia pendidikan, mampu berpacu, dalam waktu yang bersamaan. Berdasarkan argumrntasi demikian, maka dakwah multikulturalisme membutuhkan sinergitas antar lembaga dakwah, ormas Islam serta lembaga dakwah di bawah pemerintah dengan memperhatikan hal berikut;

1.    Masyarakat multikultural sebagai sasaran dakwah, perlu dimaknai sebagai upaya berlapang hati untuk mau menerima perbedaan dengan kelompok lain.

2.   Kelompok penganut agama yang berbeda-beda di lingkungan masyarakat, masing-masing bisa memelihara diri untuk tidak melakukan kegiatan yang bersifat propaganda agama. Sebaliknya mereka diharapkan mencari persaman-persamaan, sehingga tidak ada peluang untuk terbukanya konflik antar agama.

3. Lembaga-lembaga dakwah memiliki arti penting dalam penguatan masyarakat multikutur. Sebagai institusi sosial, lembaga dakwah perlu meningkatkan kemampuannya melakukan gerakan untuk pengembangan potensi secara signifikan dalam rangka memperbaiki taraf hidup masyarakat, dan membangun kreativitas dan perekayasaan sosial.

4.  Ketaatan pada hukum, dimaknai juga ketataan pada nilai-nilai yang dibangun bersama, yang didasarkan pada ajaran agamanya, pada tradisi dan hasil dari proses adaptasi dan integrasi antarbudaya. Keharmonisan hubungan antar individu dan antar kelompok berbeda agama, serta berbeda latar belakang budaya, etnisitas, harus dipelihara dengan baik, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh pihak lain. 






TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Fenomena dan objek dakwah yang sangat beragam, maka beragam pula tantangan yang dihadapi oleh umat Islam di manapun dan kapanpun. Melihat beragamnya objek dakwah, maka beragam pula strategi dakwah yang dilakukan oleh da’i. Demikian juga budaya dari objek dakwah sangat beragam.

Pengertian Dakwah Antar budaya Dakwah pada hakikatnya adalah upaya aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kehidupan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara berpikir, merasa, bersikap dan berperilaku manusia pada dataran individual maupun sosiokultural dalam rangka mewujudkan ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu.[1]

Seorang da’I, dituntut untuk bisa menyampaikan materi kepada mad’u secara endidik dan dapat diterima oleh mad’u, ini merupakan keharusan. Karena seorang da’I dianggap berhasil apabila ia telah mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam komunikasi, hal ini disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, seorang dai harus bisa memahami kondisi mad’u. Di sinilah letak pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada, maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik.

Komunikasi dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Karena dakwah adalah aktifitas berkomunikasi. Namun lebih khusus komunikasi tentang agama Islam, penyebaran Islam, dan juga anjuran baik dan buruk. Disini dakwah dan komunikasi lintas budaya diperlukan. Mengingat majemuknya budaya di Indonesia menuntut seorang da’I untuk bisa menjadi da’I yang endidikanl. Penggunaan metode dakwah yang benar adalah keharusan. Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu endidik dan problematika kehidupan sosial sebagai endidik yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan endidikan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita endidikan nasional. Tujuan seperti diamanahkan endidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah.

Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’I (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap terpeliharanya situasi damai.[2] Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat. Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya sasaran dakwah (mad’u). Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatannya pun berbeda pula. Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi :

  1. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’I dengan mad’u yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.
  2. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’I, materi, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
  3. Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’I maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.
  4. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masingmasing etnis.
  5. Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing.

Wilayah yang memiliki masyarakat multikultur dan multietnis mempunyai tantangan untuk mengakomodasi perbedaan kebangsaan dan etnis secara stabil dan dapat dipertahankan secara moral. Tantangan multikultur ini juga menjadi tantangan dalam aktivitas dakwah Islam dengan cara mengubah dan menata kembali cara-cara serta orientasi dakwah.[3]

 

 

 

 

DAKWAH DALAM KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (ETNIK, RAS DAN BANGSA)

Berbicara komunikasi tentunya banyak pengertian yang akan mudah ditemukan. Meskipun bermacam-macam definisi komunikasi, namun arti atau inti dari definisi tetap sama. Komunikasi adalah suatu proses yang dinamis yang dilakukan manusia melalui perilaku yang berbentuk verbal dan nonverbal yang dikirim dan diterima dan ditanggapi orang lain.[4] Ada juga yang berpendapat bahwa komunikasi merupakan setiap proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi informasi yang disampaikan tidak hanya lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu di sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan.[5]

Dakwah pada umumnya yaitu penyampaian pesan dari da’i kepada mad’u dengan menggunakan berbagai macam media dan metode agar tercapai tujuan dakwah. Akan tetapi, yang membedakan pembahasan dakwah disini, dakwah yang berasal dari latar belakang yang berbeda misalnya perbedaan budaya antara da’i dan mad’u. Dakwah ini disebut dengan dakwah lintas budaya. Dakwah lintas budaya merupakan sebuah proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da’i dan mad’u.[6] Dalam dakwah lintas budaya, keragaman merupakan tantangan bagi da’i supaya mampu meramu pesan-pesan dakwah yang lebih bijaksana dengan mempertimbangkan kondisi positif budaya mad’u termasuk memperhatikan media dan metode yang dianggap bisa mendekatkan antara da’i dan mad’u. Perbedaan bahasa, budaya, dan lingkungan tempat tinggal bisa menjadi permasalahan yang signifikan dalam proses dakwah.

Pada hakikatnya, dakwah lintas budaya merupakan cara bagaimana berdakwah dengan menggunakan budaya tersebut sebagai media dan metode sehingga dakwah bisa diterima dalam masyarakat. Setiap tempat, atau wilayah mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatan dalam berdakwahpun berbedabeda. Dakwah dengan budaya yang berbeda menjadi perhatian khusus bagi seorang da‟i. Misalnya dalam penyampaian da‟i harus paham mad‟u yang dihadapi. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 4 yang berbunyi:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Firman Allah tersebut, dijelaskan bil lisani qaumihi yang artinya “bahasa kaumnya”, maksudnya dalam penyampaian dakwah, seorang da‟i harus menyesuaikan siapa mad‟u yang diajak berinteraksi.

Dakwah dalam tataran normatif dan praktis, tidak dapat terlepas dari proses komunikasi sebab keberhasilan seorang da‟i tidak bisa lepas dari kemampuannya dalam mengkomunikasikan ajaran - ajaran Islam kepada masyarakat. Apabila diperhatikan secara seksama dan mendalam maka pengertian dakwah tidak lain adalah komunikasi. Dakwah dapat dipahami sebagai sebuah ajakan untuk melakukan tindakan positif dan meninggalkan tindakan yang negatif. Sebuah ajakan untuk melakukan tindakan positif merupakan proses komunikasi. Tetapi dakwah merupakan komunikasi yang khas, berbeda dengan komunikasi yang lain.

Sebenarnya hal yang membedakan antara komunikasi dan dakwah terletak pada unsur pesannya (message), karena dakwah adalah merupakan proses untuk melakukan amar ma‟ruf nahi munkar yang bersandarkan ajaran-ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an dan al Hadits Nabi, sementara komunikasi unsur pesannya bersifat umum. Sementara menurut Toto Tasmara yang membedakan antara dakwah dan komunikasi terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi mengharapkan adanya partisipasi dari komunikan atas idea-idea atau pesan-pesan yang disampaikan dari komunikator, sehingga dengan pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan dan tingkah laku yang diharapkan. Sedangkan dakwah, ciri yang membedakannya cara pendekatan menggunakan persuasif dan tujuannya yaitu mengaharapkan perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.[7]

Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai. Hal ini harus dengan mempertimbangkan baik dari segi materi dakwah, maupun metodenya.

Proses dakwah lintas budaya tidak bisa lepas dari proses komunikasi lintas budaya, yang mana keduanya itu saling berhubungan. Di dalam dakwah lintas budaya mengenal beberapa teori untuk interaksi antara da’i dan mad’u. Teori-teori tersebut yaitu pertama, resistance theory (Teori Resistensi) atau teori penolakan. Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi penentangan bahkan sikap dan respons penolakkan tak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakkan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Ada beberapa kemungkinan apabila teori resistensi ini terjadi. Misalnya, terjadi gejolak budaya pada level mad’u begitu juga gejolak pada diri sang da’i, atau terjadi gejolak antara da’i dan mad’u dalam suatu kondisi. Terjadi dominasi salah satu kekuatan gagasan dan budaya baik pada da’i maupun mad’u.

Kedua, acculturation theory (teori akulturasi) atau teori percampuran. Dalam dasar ayat dakwah lintas budaya jelas memberi pengertian bahwa Allah menciptakan manusia dari berbagai suku dan bangsa, ras, bahasa bahkan agama agar saling mengenal dan tukar informasi, prestasi, saling berdialog, dan bekerja sama. Karena manusia merupakan makhluk sosial, maka sudah menjadi fitrah bahwa manusia saling kontak dan berkomunikasi. Dalam proses komunikasi inilah manusia saling melempar latar belakang budaya yang telah mereka pelajari menjadi suatu budaya sebagai identitasnya. Dari landasan teori ini, percampuran budaya karena interaksi manusia akan kehadiran bentuk budaya baru merupakan suatu keniscayaan.

Ketiga, receptie theory (teori resepsi), yaitu menerima sepenuhnya atau menerima sebagian gagasan budaya yang lain dan baru harus menjadi budaya masyarakat setempat terlebih dahulu adalah landasan utama teori ini. Penerimaan bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu dianggap lebih baik dan menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat. Standar suatu budaya masyarakat itu dianggap baik adalah apabila gagasan dan budaya itu telah teruji pada praktik masyarakat nyata. Karena penerimaan suatu budaya kemungkinan terjadi pada masyarakat mad’u yang jauh lebih mapan dan maju, kemudian diikuti dan diitiru oleh masyarakat lainnya dengan motivasi yang sama. Peniruan adalah langkah awal umumnya penerimaan suatu budaya baru atau budaya lain yang kemudian dipraktikkan.

Keempat, complementary theory (teori komplementer), yaitu pembaharuan budaya masyarakat. Dewasa ini tak sepenuhnya suatu budaya baru atau budaya lain dapat diterima pihak suatu masyarakat (dependent) dengan mulus bahkan bisa terjadi penolakkan. Akan tetapi penolakkan tidak akan berlangsung lama, lambat laun, setahap demi setahap, sebagian budaya luar dan baru itu diterima bahkan dijadikan model dalam hubungan interaksi antarmasyarakat. Sehingga, budaya baru atau budaya lain itu dengan cepat diterima oleh masyarakat.[8]





DAKWAH DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu ctualk dan problematika kehidupan sosial sebagai ctualk yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan ctualkan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita ctualkan nasional. Tujuan seperti diamanahkan ctualkan nasional tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah.[1]

Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat. Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya sasaran dakwah (mad’u).

Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis (Pimay, 2005. 45). Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya ctual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat. Teori-teori dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah antar budaya.[2]

 

 

 

 

UNSUR – UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk mempengaruhi pengetahuan atau perilaku sesorang. Dari pengertian komunikasi yang sederhana ini maka kita bisa mengatakan bahwa suatu proses komunikasi tidak akan bisa berlangsung tanpa didukung oleh unsur-unsur komunikasi. Berikut dibawah ini adalah unnsur-unsur kommunikasi.

1.      Sumber / Da’i

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim komunikasi. Dalam komunikasi antar manusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi, lembaga-lembaga kenegaraan atau organisasi kepemudaan.

2.      Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan hiburan, iformasi, nasihat atau propaganda.

3.      Media

Media yang dimaksud disini adalah alat yang digunakan utuk memindahkan pesan dari sumber kepeda penerima. Seperti indra manusia kemudian telephon, surat, telegram yang tergolong dalam sebagi komunikasi antar pribadi.

4.      Penerima / Mad’u

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, organisasi, partai atau negara. Penerima pesan bisa mencerna apa informasi yang telah diterimanya kemudian untuk bisa di implementasikan dalam keseharian.

5.      Pengaruh

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang (De Fleur, 1982).

6.      Tanggapan Balik

Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bsa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media.[3] 

 

 

 

 

AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON VERBAL DALAM DAKWAH

Komunikasi verbal dalam Komunikasi Antarbudaya Simbol atau pesan verbal adalah Semua jenis ataka yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir Semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara sabar. Suatu sistem kode verbal disebut ataka. Bahasa dapat didefisinikan sebagai seperangkat ataka, dengan aturan untuk mengkombinasikan ataka-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.[4]

Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. Konsekuensinya, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diawali kata-kata itu.[5]

Ada beberapa unsur penting dalam komunikasi verbal, yaitu: 1. Bahasa Pada dasarnya ataka adalah suatu system atakan yang memungkinkan orang berbagi makna. Dalam komunikasi verbal, atakan ataka yang dipergunakan adalah ataka verbal entah lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik. Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari interaksi dan hubungan antara warganya satu sama lain.[6]

Kata Kata merupakan unit atakan terkecil dalam ataka. Kata adalah atakan yang melambangkan atau mewakili sesuatu hal, entah orang, barang, kejadian, atau keadaan. Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri. Makna kata tidak ada pada pikiran orang. Tidak ada hubungan langsung antara kata dan hal. Yang berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran orang.[7]

Sering kita bertanya “atakana kata itu?” Kita menganggap bahwa arti atau makna dikandung setiap kata yang kita ucapkan. Sebenarnya kita keliru bila kita menganggap bahwa kata-kata itu mempunyi makna. Kitalah yang memberi makna pada kata. Dan makna yang kita berikan pada kata yang sama bisa berbeda-beda.[8]

Komunikasi nonverbal dalam Komunikasi Antarbudaya Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat ataka verbalnya bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku non verbalnya. Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, ”bukan apa yang ia atakana tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih.[9]

Secara sederhana pesan nonverbal adalah Semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A SaMovar dan Richard E porter, komunikasi nonverbal mencakup Semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang memiliki nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima. Sebagaimana kata-kata, kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya.[10]

Komunikasi non verbal meliputi ekspresi wajah, nada suara, gerakan anggota tubuh, kontak mata, rancangan ruang, pola-pola perabaan, gerakan ekkspresif, perbedaan budaya, dan tindaka-tindakan lain yang tidak menggunakan kata-kata. Pemahaman atas komunikasi non verbal lebih penting dari pemahaman atas kata-kata verbal yang diucapkan atau yang ditulis.[11]

 


 

 

 

HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN

Hambatan semantik atau hambatan bahasa. Hambatan bahasa menjadi penghalang utama karena bahasa merupakan sarana utama terjadinya komunikasi. Gagasan, pikiran, dan perasaan dapat diketahui maksudnya ketika disampaikan lewat bahasa. Bahasa biasanya dibagi menjadi dua sifat, yaitu bahasa verbal dan bahasa non verbal. Bahasa menjembatani antar individu dikaji secara kontekstual. Fokus kajian bahasa selalu dihubungkan dengan perbedaan budaya (kelas, ras, etnik, norma, nilai, agama).[12]

Cara manusia menggunakan bahasa sebagai media komunikasi sangat bermacam-macam antara suatu budaya dengan budaya lain, bahkan dalam satu budaya sekalipun. Salah satu aspek penting yang berpengaruh dalam komunikasi adalah pemakaian bahasa non verbal.

Sikap Etnosentresme. Konsep ini mewakili suatu pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat dan iodeologi untuk menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior dari pada kelompok etnis atau ras yang lain. Akibat ideologi ini maka setiap entik atau ras akan memiliki sikap etnosentrisme atau rasisme yang tinggi.[13] Sikap etnosentresme dan rasisme itu berbentuk prasangka, streotip, diskriminasi dan jarak sosial terhadap kelompok lain.

Prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat dalam kegiatan komunikasi, karaena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang melancarkan komunikasi. Dalam prasangka, emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar syakwasngka, tanpa menggunakan pikiran dan pandangan kita terhadap fakta yang nyata. Karena itu, sekali prasangka itu sudah mencekam, orang tidak akan dapat berpikir objektif, dan segala apa yang dilihatnya selalu akan dinilai negatif.[14]

Stereotip. “Stereotip adalah pandangan umum dari suatu kelompok masyarakat lain. Pandangan umum ini biasanya bersifat negatif. Stereotip biasanya merupakan refrensi pertama (penilaian umum) ketika seseorang atau kelompok melihat orang atau kelompok lain”.[15]

Diskriminasi diartikan sebagai tindakan yang berbeda dan kurang bersahabat dari kelompok dominan atau para anggotanya terhadap kelompok subordinasinya dalam artian ras atau etnis.[16] Diskriminasi mengarah pada tindakan nyata, tindakan diskriminasi biasanya dilakukan oleh mereka yang memiliki sikap prasangka yang sangat kuat akibat tekakan tertentu, misalnya tekanan budaya, adat istiadat, kebiasaan atau hukum. Menurut Zastrow diskriminasi merupakan faktor yang merusak kerjasama antarmanusia atau komunikasi diantara para peserta komunikasi.[17]










DAFTAR PUSTAKA

Agus,M. Hardjana. Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal. (Yogyakarta: Kanisius, 2003)

Alo, LIliweri, Prasangka & Konflik Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural (Yogyakarta: PT LKiS, 2005)

Al – Balagh, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016

Andik Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2003)

Aripudin, Acep. 2012. Dakwah Antar Budaya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2012)

Rozi, Fachrur, 2007. “Kontroversi Dakwah Inklusif ”. Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 27, No. 1, Januari-Juni 2007

Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997

[1] Al – Balagh, Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016

[2] Masykurotus Syarifah – Budaya dan Kearifan Dakwah

[3] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2012), Cet.2 h.25

[4] Ibid hlm 260.

[5] Ibid hlm 261.

[6] Agus,M. Hardjana. Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal. (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm 23.

[7] Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal...., hlm 24.

[8] Deddy Mulyana, ilmu komunikasi......., hlm 281.

[9] Ibid hlm 342.

[10] Ibid hlm 343.

[11] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…, hlm 175-176.

[12] Andik Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2003) hlm 176-177.

[13] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam… hlm. 15

[14] Alo, LIliweri, Prasangka & Konflik Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural (Yogyakarta: PT LKiS, 2005), hlm. 199.

[15] Andik Purwasito, Komunikasi…hlm. 228.

[16] Alo, LIliweri, Prasangka & Konflik Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural (Yogyakarta: PT LKiS, 2005), hlm. 21

[17] Ibid hlm 218

Komentar