Tujuan, Fungsi & Peranan Dakwah dalam Komunikasi Antarbudaya
TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Fenomena dan objek dakwah yang sangat
beragam, maka beragam pula tantangan yang dihadapi oleh umat Islam di manapun
dan kapanpun. Melihat beragamnya objek dakwah, maka beragam pula strategi
dakwah yang dilakukan oleh da’i. Demikian juga budaya dari objek dakwah sangat
beragam.
Pengertian Dakwah Antar budaya Dakwah
pada hakikatnya adalah upaya aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu
sistem kehidupan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan
secara teratur untuk mempengaruhi cara berpikir, merasa, bersikap dan
berperilaku manusia pada dataran individual maupun sosiokultural dalam rangka
mewujudkan ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara
tertentu.[1]
Seorang da’i, dituntut untuk bisa
menyampaikan materi kepada mad’u secara gamblang dan dapat diterima oleh mad’u,
ini merupakan keharusan. Karena seorang da’i dianggap berhasil apabila ia telah
mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam komunikasi, hal ini disebut komunikasi
efektif. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, seorang dai harus bisa memahami
kondisi mad’u. Di sinilah letak pentingnya komunikasi lintas budaya, karena
dengan memahami budaya yang ada, maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik.
Komunikasi dan dakwah tidak bisa
dipisahkan. Karena dakwah adalah aktifitas berkomunikasi. Namun lebih khusus
komunikasi tentang agama Islam, penyebaran Islam, dan juga anjuran baik dan
buruk. Disini dakwah dan komunikasi lintas budaya diperlukan. Mengingat
majemuknya budaya di Indonesia menuntut seorang da’i untuk bisa menjadi da’i
yang profesional. Penggunaan metode dakwah yang benar adalah keharusan.
Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural
yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu
variabel dan problematika kehidupan sosial sebagai variabel yang lain, maka
keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya
dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru
yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan
masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita
pendidikan nasional. Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut
menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses
berdakwah.
Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap terpeliharanya situasi damai.[2] Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat. Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya sasaran dakwah (mad’u). Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatannya pun berbeda pula. Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi :
- Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.
- Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, materi, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
- Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.
- Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masingmasing etnis.
- Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing.
Wilayah yang memiliki masyarakat multikultur dan multietnis mempunyai tantangan untuk mengakomodasi perbedaan kebangsaan dan etnis secara stabil dan dapat dipertahankan secara moral. Tantangan multikultur ini juga menjadi tantangan dalam aktivitas dakwah Islam dengan cara mengubah dan menata kembali cara-cara serta orientasi dakwah.[3]
Komentar
Posting Komentar